Waspada Hipertensi: Kenali Gejala, Faktor, Dampak serta Cara Pencegahan

Tahukah Anda bahwa tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali tidak memperlihatkan gejala? Banyak individu menjalani aktivitas sehari-hari tanpa sadar bahwa mereka berisiko mengalami kerusakan serius akibat kerja keras jantung dan pembuluh darah. Inilah mengapa hipertensi dikenal sebagai "silent killer" — musuh yang tak terlihat dan dapat mempengaruhi siapa saja, kapan saja, tanpa menunjukkan tanda-tanda yang jelas.

Kabar baiknya adalah Anda bisa mencegah dan mengelola hipertensi apabila Anda bisa mengenali gejala-gejalanya sedari awal dan menyadari konsekuensi yang mungkin timbul jika dibiarkan. Dengan pengetahuan yang tepat, Anda dapat melakukan langkah-langkah sederhana yang efektif untuk melindungi diri dan orang-orang terkasih dari risiko penyakit ini.

Untuk itu perlu pemahaman lebih dalam tentang gejala yang sering diabaikan, bagaimana hipertensi berdampak pada kesehatan secara keseluruhan, serta strategi pencegahan yang bisa langsung diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pola makan yang sehat, aktivitas fisik yang menyenangkan, hingga cara efektif dalam mengelola.

Penyakit hipertensi disebut sebagai pembunuh diam karena seringkali penderita tidak menyadari bahwa mereka menderita hipertensi, tetapi akhirnya mereka mengetahui bahwa telah muncul penyakit lain atau komplikasi akibat hipertensi sebelumnya.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terdapat peningkatan tekanan darah di atas nilai normal, yang dapat mengakibatkan rasa sakit bahkan mengancam nyawa. Seseorang dianggap mengalami hipertensi jika tekanan darahnya melebihi nilai normal, yakni lebih dari 140/90 mmHg. Tekanan darah dapat meningkat ketika terjadi peningkatan pada sistole, yang tingkatnya bervariasi tergantung pada masing-masing individu; di mana tekanan darah juga berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, yang dipengaruhi oleh posisi tubuh, usia, dan kadar stres yang dialami.

Bagaimana gejala hipertensi?

Gejala klinis yang dialami oleh pasien hipertensi biasanya berupa
1. Pusing
2. mudah marah
3. Telinga berdengung
4. Sukar tidur
5. Sesak napas
6. Rasa berat ditengkuk
7. Mudah lelah
8. Mata berkunang-kunang

Gejala klinis yang lain timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun berupa nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranial.

Berbagai faktor risiko dapat mempengaruhi terjadinya hipertensi. Pada umumnya faktor risiko dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor risiko langsung dan tidak langsung. Faktor risiko langsung juga terbagi faktor risiko yang tidak dapat dicegah atau tidak dapat dihindari seperti umur, perbedaan gender, hormonal, dan faktor genetik. Sedangkan faktor yang dapat dicegah biasanya berkaitan dengan gaya hidup (perilaku) masyarakat (Rajput and Shama, 2019).

a. Genetik (Keturunan) 

Seseorang berkemungkinan besar menderita hipertensi jika orang tuanya penderita hipertensi juga. 

b. Gaya Hidup

Gaya hidup memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan risiko hipertensi, di mana kebiasaan sehari-hari seperti konsumsi garam yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol secara berlebihan dapat secara signifikan meningkatkan tekanan darah seseorang. Pola makan yang tidak sehat, terutama yang tinggi natrium, menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh sehingga volume darah meningkat dan memicu hipertensi. Selain itu, kurangnya olahraga membuat jantung bekerja lebih keras, sementara stres dan kebiasaan buruk lainnya turut memperparah kondisi ini. Oleh karena itu, perubahan gaya hidup menjadi langkah dalam mencegah dan mengendalikan hipertensi agar risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal dapat diminimalkan.

 c. Jenis Kelamin  

Pada umumnya tekanan darah pria lebih tinggi dibanding tekanan darah wanita. Pria cenderung mengalami tekanan darah tinggi lebih banyak dibandingkan wanita karena sindrom metabolik yang ada di dalam tubuh mereka berkaitan dengan penyakit jantung dan diabetes. Sedangkan pada wanita, tekanan darah tinggi disebabkan karena efek menopause.

d. Usia

Apabila umur seseorang bertambah, maka akan menyebabkan bertambahnya tekanan darah pula.

e. Kebiasaan merokok

Merokok menyebabkan peningkatan tekanan darah. Perokok berat dapat dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami aterioklerosis.


Apa dampak dari hipertensi?

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya komplikasi seperti penyakit jantung koroner dan stroke, gagal jantung, gagal ginjal dan lain-lain pada sistem kardiovaskular (Marhabatsar & Sijid, 2021). Sejalan dengan Nuraini, (2015), penyempitan pembuluh darah dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol menyebabkan penyakit seperti serangan jantung, stroke, gagal jantung kongestif dan penyakit ginjal kronis (PGK). Tingginya tekanan darah mengakibatkan jantung bekerja lebih keras, jantung akan melemah karena stres ekstra dan, jika tidak segera ditangani memungkinkan pembuluh darah menyempit (Wulandari et al., 2023). 


Bagaimana cara pencegahannya?

Pencegahan hipertensi bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut:

a. Mengatasi Obesitas/ Menurunkan Kelebihan Berat Badan 

                                            https://images.app.goo.gl/EJJrXDhF2WZze6gg9 

Prevalensi hipertensi pada obesitas jauh lebih besar. Risiko relatif untuk menderita hipertensi pada orangorang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sesorang yang badannya normal.

b. Mengurangi asupan garam didalam tubuh 

                                            https://images.app.goo.gl/PguYm5kvfxfLN4Va6

Batasi asupan garam sampai dengan kurang dari 5 gram (1 sendok teh) per hari pada saat memasak. 

c. Menciptakan Keadaan Rileks 

                                            https://images.app.goo.gl/s9GT8op1WhwoTyiK9 

Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akan menurunkan tekanan darah. 

d. Melakukan Olahraga 

                                            https://images.app.goo.gl/Y7MqWkxmY433YBfG6

Teratur Berolahraga seperti senam aerobic atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali dalam seminggu dapat menambah kebugaran dan memperbaiki metabolisme tubuh yang akhirnya mengontrol tekanan darah. Pencegahan Hipertensi 

e. Berhenti merokok 

                                                https://images.app.goo.gl/5TnYdCRyr5eXYkek6

Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak jaringan endotel pembuluh darah arteri yang mengakibatkan proses artero sclerosis dan peningkatan tekanan darah.


Jangan menunggu hingga gejala muncul atau komplikasi datang. Mari bersama-sama tingkatkan kesadaran dan ambil alih kesehatan Anda sekarang. Karena hidup sehat bukan sekadar bertahan, tetapi juga menikmati setiap momen dengan penuh energi dan semangat!


Daftar Pustaka:

Muliadi, D., Riduansyah, M., Tasalim, R., & Mahmudah, R. (2024). Efektivitas pemberian air kelapa muda genjah kuning (Cocos nucifera) terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi primer. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, 14(2), 581–588. http://journal.stikeskendal.ac.id/index.php/PSKM/article/view/1811 

Falo, A., Ludiana, L., & Ayubbana, S. (2023). Penerapan relaksasi nafas dalam terhadap tekanan darah pasien hipertensi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari Kota Metro. Jurnal Cendikia Muda, 3(1), 32–36. https://jurnal.akperdharmawacana.ac.id/index.php/JWC/article/download/436/271 

Tambunan, F. F., Nurmayni, N., Rahayu, P. R., Pidia, S., & Sari, S. I. (2021). Hipertensi (Si pembunuh senyap). CV. Pusdikra Mitra Jaya.

Pradono, J., dkk. (2020). Hipertensi: Pembunuh terselubung di Indonesia. Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Komentar